FayakhunAnriadi mengatakan bahwa Ada dua aspek yang bisa menjadi fokus Departemen
Kesehatan untuk memperkuat sisi pencegahan ketimbang penyembuhan.
Aspek pertama, kata Fayakhun Andriadi, penguatan kesadaran perilaku
sehat masyarakat Indonesia. Dalam penelitiannya, Hendrik menyimpulkan bahwa di
Amerika Serikat, dalam hal faktor yang mempengaruhi status kesehatan
masyarakat, perilaku kesehatan berada di posisi urutan kedua setelah faktor
lingkungan. Tapi di Indonesia, faktor perilaku merupakan faktor utama. Hal ini
terkait dengan kesadaran (suprastruktur) masyarakat untuk menjalankan perilaku
hidup yang sehat. Pendidikan adalah kunci utama, karena perilaku sehat ditopang
oleh edukasi yang kuat. Negara harus optimal memanfaatkan pendidikan sebagai
instrumen untuk membangun kesadaran publik tentang pentingnya perilaku sehat.
Jika kesadaran untuk menjalankan perilaku sehat sudah kuat, maka dengan
sendirinya itu menjadi sistem “imun” terhadap berbagai potensi ancamana
kesehatan. Kesadaran tersebut menjadi mekanisme pencegahan yang paling kokoh.
“Aspek kedua, penguatan infrastruktur dan layanan kesehatan yang
merata dan berkualitas di berbagai daerah. Di Indonesia, kualitas pelayanan
kesehatan masyarakat masih sangat rendah. Hasil riset The Indonesian Institute
(2014) menunjukkan bahwa tiga problem besar yang menjadi kendala dalam bidang
kesehatan di Indonesia semuanya menyangkut aspek infrastruktur,” jelas Fayakhun
Andriadi.
Problem pertama, kata Fayakhun, ketersediaan infrastruktur yang
belum merata dan kurang memadai. Menurut data, dari sekitar 9.599 puskesmas dan
2.184 rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia, sebagian besarnya masih
berpusat di kota-kota besar. Di Indonesia, perbandingan tempat tidur rumah
sakit yang tersedia per penduduk adalah 0,9 : 1000. Artinya, setiap 1000 orang
penduduk, rumah sakit hanya bisa menampung tidak sampai 0.1%. Angka ini lebih
buruk daripada di negara berkembang lain seperti Brasil dan Vietnam. Sementara
angka tenaga medis per penduduk di Indonesia juga sangat rendah, yaitu 0.2%
tenaga medis untuk setiap 1000 penduduk.
“Problem kedua, soal distribusi tenaga kesehatan yang belum merata.
Menurut data terakhir Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 52,8 persen dokter
spesialis berada di Jakarta, sementara di wilayah bagian Timur Indonesia hanya
sekitar 1-3 persen saja. Data Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan
Kementerian Kesehatan menunjukkan dari 668.522 tenaga kesehatan, sebaran
terbanyak berada di Jawa dan Bali (45,08 persen), Sumatera (27 persen), Nusa
Tenggara dan Papua (3,91 persen dan 2,44 persen),” tegas Fayakhun.
Selanjutnya, menurut Fayakhun Andriadi problem ketiga adalah terkait
dengan pendanaan. Pada tahun 2014, pemerintah hanya mengalokasikan 2,4 persen
dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk bidang kesehatan.
Padahal Undang-undang Kesehatan Nomor 36/2009 mengamanatkan dana kesehatan
sebesar 5 persen.
Fayakhun mengungkapkan bahwa tiga problem tersebut berdampak pada
lemahnya fungsi pencegahan dalam sistem kesehatan masyarakat kita. Kita seperti
terus diburu oleh target penyembuhan, sementara sistem pencegahannya sangat
lemah. Akibatnya, anggaran negara banyak terkuras untuk meladeni penyembuhan
yang dari tahun ke tahun semakin kompleks dan tinggi biayanya.
“Ketersediaan infrastruktur yang memadai merupakan prasyarat mutlak
untuk membentuk sistem pencegahan yang efektif dan komprehensif. Kelemahan pada
aspek infrastruktur akan melemahkan sistem pencegahan. Jadi, secara
keseluruhan, sistem kesehatan kita memiliki dua kelemahan mendasar, yaitu
suprastruktur (kesadaran perilaku hidup sehat) dan infrastruktur (sarana dan
sumber daya manusia),” kata Fayakhun.
Fayakhun Andriadi berpesan, Kebijakan kesehatan Kementerian
Kesehatan, hendaknya mengedepankan visi pencegahan ketimbang pengobatan. Dalam
jangka panjang, negara-negara yang sejak saat ini fokus pada visi pencegahan
akan memiliki ketahanan yang tinggi dalam aspek kesehatan masyarakatnya. Dan
ini modal penting dan berharga di masa depan. Yaitu era dimana ketahanan
terbaik sebuah negara adalah kualitas sumber daya manusianya, bukan sumber daya
alamnya. Kualitas kesehatan adalah salah satu bagian terpenting pertahanan
seorang warga negara.
Komentar
Posting Komentar